Sejarah MKGR

Segenap warga negara Indonesia yang mengalami dan mengikuti perkembangan kehidupan politik dan kemasyarakatan sejak awal kemerdekaan hingga akhir dasawarsa 50-an, niscaya merasakan berbagai suasana yang senantiasa mendebarkan jantung. Harapan yang diidam-idamkan sebagai bangsa yang merdeka semakin kabur dan menjauh dari pandangan. Itu semua adalah akibat dari adanya semangat yang menyala-nyala dan gairah yang amat tinggi semua pihak untuk secepatnya mewujudkan masyara­kat adil makmur, namun di lain pihak ternyata bekal pengalaman untuk melaksanakan. kedaulatan negara dan mengendalikan pemerintahan masih kurang. Akhirnya semangat dan gairah tersebut hanya ditopang oleh teori dan pengalaman bangsa lain yang ter­nyata tidak cocok bagi negara yang baru merdeka ini. Tak ayal lagi terjadi saling berebut kebenaran antar kelompok kepemimpinan dengan aneka teori dan keinginan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Hanya kesadaran dan kebanggaan sebagai bangsa yang berabad-abad berjuang meraih kemerdekaan dengan segala pengorbanan sajalah yang berhasil mengulur waktu dan menunda pro­ses perpecahan yang semakin mendalam. Semua kesepakatan mendasar yang pernah dicetuskan seperti Sumpah Pemuda tahun 1928, Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, dasar dan falsafah negara Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 nyaris tercampak dari permukaan bumi Pertiwi. Kebenaran subyektif tiap-tiap kelompok lebih ditonjolkan sehingga melahirkan perilaku dan pola tindak politik dan kemasyarakatan yang beringas. Ditambah dengan adanya faktor pengaruh asing yang ingin mengambil keuntungan sepihak, meletuslah secara sporadis peristiwa-peristiwa berdarah yang membawa korban jiwa dan harta serta meninggalkan luka-luka yang amat pedih.

Dalam suasana demikian itu, Tuhan ternyata berkenan menggugah sebagian bangsa Indonesia untuk segera sadar. Di tengah-tengah hampir setiap orang terlibat dalam sengketa adu kebena­ran, ada kelompok yang berfikir jernih. Kelompok yang sadar itu mengambil hikmah dari pengalaman pahit.

Beberapa dari hikmah tersebut pokok-pokoknya sebagai berikut:

 

  • Bahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah puncak peristiwa tercapainya sukses bagi seluruh rangkaian panjang gerakan perjuangan mencapai kemerdekaan bagi negara Republik Indonesia dari masa ke masa.
  • Bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah rumusan terbaik yang telah dicapai oleh para pendiri Republik sebagai dasar dan falsafah negara dan konstitusi untuk membimbing dan mengarahkan semua pikiran tentang perikehidupan berbangsa dan bernegara.
  • Bahwa musyawarah untuk mufakat adalah pola tindak yang paling sesuai dan mampu menyelesaikan semua masalah yang timbul dalam rangka mewujudkan tata kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlatar belakang macam-macam suku, agama, ras, adat istiadat dan seterusnya namun tetap dalam semangat persatuan, kesatuan, kerukunan, senasib dan sepenanggungan.
  • Bahwa sikap dan suasana kekeluargaan adalah pola pendekatan dan tata hubungan yang terbaik yang harus diciptakan, dipelihara dan dikembangkan guna menjamin tercapainya ketahanan nasional terutama di bidang sosial politik, ekonomi budaya dan pertahanan-keamanan.
  • Bahwa gotong royong adalah pola kerja bersama yang ampuh bagi pembinaan massa rakyat untuk ditujukan kepada terwujudnya dinamika dan productivities nasional sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

 

Dengan bekal lima butir kesadaran tersebut di atas dan de­ngan disertai upaya rokhaniah untuk mendekatkan diri, mohon petunjuk, taufik dan hidayah dari Allah Swt maka ada di antara kelompok massa rakyat dengan dipimpin oleh seorang yang mereka tuakan; Kolonel INF. R.H. Sugandhi Kartosubroto mendirikan organisasi massa yang diberi nama MUSYAWARAH KEKELUARGAAN GOTONG ROYONG disingkat MKGR pada tanggal 3 Januari I960 di Jakarta.

MKGR lahir dari kalangan rakyat tanpa modal kekayaan dan tidak bermandikan fasilitas dan berselimutkan kekebalan. MKGR lahir dalam keadaan Iemah seperti layaknya anak manusia yang lahir di tengah hutan belantara. la kemudian hidup dan menghidupi diri dengan bersandar pada rakhmat Illahi dan kecintaan insani serta bekal cita-cita luhur. Ternyata kemudian MKGR secara berangsur tetapi pasti tumbuh, berkembang dan berbuah yang akhirnya membawa kemanfaatan yang tidak kecil.